Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan (aku letih karena tidur sepanjang jalan tol Bandung-Jakarta. Tidurpun ternyata bisa melelahkan), akhirnya sampai juga di tujuan akhir travel point-to-point yang berangkat dari jalan Pasteur, Bandung- Central Park, Jakarta Barat. Karena masih letih, kulanjutkan dengan taksi menuju tempat singgah sementara sebelum besok melanjutkan perjalanan menuju ujung pulau Sumatera. Sebetulnya tempat singgah dekat saja, bisa ditempuh dengan ojek, tapi untuk mencari ojeknya aku harus keluar jalan kaki dari Central Park dan itu pasti akan membuatku letih betulan. Sesampai di tempat singgah, dengan tubuh letih lunglai kubuka laptop cerdasku. Saking cerdasnya setiap aku mengetik, kursornya suka lari-lari menulis sendiri. Sayangnya yang ditulisnya bukan dalam bahasa yang dikenal manusia. Aku mengetik bergulat melawan pemberontakan kursor, terkadang sambil minum kopi, dan terkadang sambil makan nasi, dan terkadang sambil mandi, dan terkadang sambil ngunyah biskuit, akhirnya selesai juga drama singkat satu babak y ng segera kuunggah ke laman blog keroyokan. Target minimal satu hari satu tulisan terpenuhi sudah. Tiba giliran untuk membuka dinding media sosial mukatembok*cuy, melihat apakah keluarga mayaku baik-baik saja. Ada foto Dodit, keponakan mayaku di barat pulau Sumatera sedang berfoto berdua dengan seorang gadis cantik. Istilahnya foto wefie, begitulah. Belum ada yang memberi komentar karena memang baru saja diunggah, masih hangat dari kamera gawai. “Selamat, yaaa....” aku menuliskan komentar di bawah foto dan tak lupa memberi jempol tanda ‘suka’. Mungkin jomblowan satu ini akan segera melepas masa penantian panjangnya. Menggulung ke bawah, ada foto Sabina dan kedua anaknya yang ganteng dan cantik. Sabina drop out sekolah tinggi seni rupa di Paris, dan sekarang tinggal di Berlin. Namun komentar-komentar dari teman-temannya dalam bahasa Perancis dan Jerman membuat dahiku berkerut. Intinya sama: Semoga kalian bertiga tegar, semoga kalian bertiga baik-baik saja, jika perlu bantuan jangan sungkan menghubungiku, dan lain-lain. Dua puluh tujuh komentar dengan kalimat senada. Aku mengirim pesan ke inbox Sabina: “R u OK?” Ke bawah lagi, ada hasil kuis mamak dari situs ujiannama*kom. Meskipun judulnya ujian nama, tapi pertanyaannya adalah: Berapa kali kamu jatuh cinta seumur hidupmu? Jawabannya adalah: “Mamak, kamu jatuh cinta 5 kali seumur hidup.” Mamak protes. “Ah, Cuma lima kali? Sikit kali, lah! Aku mau jatuh cinta tiap hari!” Mamak dunia mayaku yang kecantikannya mengalahkan artis bintang film Korea tanpa harus operasi ganti muka itu memang suka lebay. Aku menulis di kolom komentar: “Mak, rendang kerbau mamak angus tu di dapur.” *** Gawaiku berdenting, memberi tanda ada pesan masuk. Cucuku Sriti mengirim pesan wasap. “Mbah, orangtuaku kok maksa aku supaya cepat-cepat kawin. Padahal aku baru memulai sanggar ketrampilan untuk ibu-ibu dan remaja ndeso. Njuk piye iki, mbah?” Sriti anak yang baik, mantan buruh migran teladan. Tapi memang agak sedikit koppig. Usianya di penghujung dua puluh tahun. Wajar orangtuanya khawatir anaknya akan jadi perawan tua. Aku balas. “Berdoa saja kepada-Nya minta diberi petunjuk mana yang terbaik.” Lha, cuma itu bisaku. Giliran laptopku yang berdenting. Ada dua pesan masuk ke inbox. Yang pertama dari Dodit. “Om, aku sengaja foto sama cewek teman sekantor. Kemarin aku dijemput sama sepupu jauh. Malas aku, om. Jaman sekarang kok masih pakai jemput-menjemput.” Dodit anak yang baik. Biarpun jabatannya di kantor tempatnya bekerja masih staf biasa, namun dari segi penghasilan sudah layak untuk berumahtangga. Wajar kalau ada yang menjemputnya. Adat istiadat di kampungnya memang wanita yang melamar pria. Dijemput, istilahnya. Aku balas inbox-nya. “Berdoa saja kepada-Nya minta diberi petunjuk yang terbaik.” Pesan kedua rupanya dari Sabina. “Aku pisah dengan Hans, om. Anak-anak kubawa.” “Sekarang tinggal di mana?” tanyaku. “Kebetulan teman kuliahku dulu ada yang menjadi pengelola hotel di Berlin. Aku dapat diskon untuk sewa kamar bulanan.” Sabina anak yang baik. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, sebenarnya yang kutahu ia cukup mandiri setelah kedua orangtuanya tiada. Tapi saudara-saudaranya semua tersebar di berbagai kota dunia. Si sulung di Merbourne bekerja sebagai dosen. Kakanya yang nomor dua tinggal di Kobe, seperti Sabina ia juga menikah dengan pria WNA. Kakak nomor tiga di New York, jadi hairstylist. “Berdoa saja kepada-Nya mohon diberi petunjuk yang terbaik.” Ada notifikasi dari mukatembok*cuy. Mamak membalas komentarku. “Hari ini mamak ndak masak! Mamak lagi marah sama bapakmu. Dia lupa hari ulang tahun panci mamak!” Aku balas dengan komentar: “Aku berdoa kepada-Nya semoga mamak lekas baik.” Jakarta, 12 Januari 2016
Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/ayahkasih/keluarga-maya-yang-terbaik_5693f5e7c9afbdc716f3d0c2
Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/ayahkasih/keluarga-maya-yang-terbaik_5693f5e7c9afbdc716f3d0c2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar