Kutipan: "Kaum komunis itu tidak mempunyai senjata lain kecuali organsiasi"
Dan organisasi yang ter-efektif adalah organisasi Partai. Partai Komunis,
entah apa namanya, itu tidak terlalu penting. Saya teringat apa yang pernah
diucapkan Joesoef Isak baru-baru ini bahwa katanya bilapun undang-undang telah
membolehkan untuk mendirikan Partai Komunis, maka mungkin akan ada sepuluh PKI
dan bukannya hanya satu. Kemungkinan demikian bisa menjadi realitas di saat-saat
situasi bekas-bekas PKI yang bertebaran di mana-mana kehilangan organisasi
Partai mereka yang telah dihancurkan Suharto dan lalu diblokade oleh TAP MPRS
XXV/1966.
Meskipun bekas-bekas PKI telah memasuki bermacam-macam Partai termasuk
Golkar bahkan hingga ke gedung Parlemen, akan tetapi bila tidak ada organisasi
Partai Legal maupun ilegal ,bekas-bekas komunis yang bertebaran itu tidak punya
senjata, senjata organisasi. Menurut Jung Chang, kemenangan PKT atas KMT tak
terlepas dari masuknya komunis-komunis ke dalam Partainya Chiang Kai Sek yang
memberikan informasi-informasi penting kepada PKT yang ahirnya membuat Kuo Min
Tang (KMT) banyak menderita kekalahan dan mendatangkan kemenangan total atas
KMT. Namun betapapun banyaknya bekas-bekas anggota PKI yang masuk ke dalam
banyak Partai, bila mereka tidak mempunyai organisasi Partainya sendiri, yaitu
Partai Komunis, mereka tetap saja tidak punya senjata karena antara Komunis dan
Organisasi Partai Komunis tidak bisa dipisahkan , tidak bisa terlepas satu sama
lain. Komunis yang tak punya organisasinya sendiri sama saja seperti seorang
prajurit yang dilucuti persenjataannya. Komunis tanpa organisi cumalah sebuah
ide yang tak akan pernah terealisasi.
Tapi seandainyapun ujud sepuluh atau lebih PKI yang bahkan ilegal
sekalipun, arah ke penyatuan ide akan lebih kongkret yang berangsur akan menjadi
sebuah senjata bagi setiap Komunis.Tapi pemikiran yang ada sekarang seolah PKI
sudah tak perlu dibangkitkan lagi, yang sudah mati sudahlah. Tapi lalu siapa
yang akan memimpin rakyat Indonesia yang semakin lapar dan tertindas untuk
melawan penguasa yang semakin anti rakyat, meninggalkan rakyat dan bertekad
berkhianat kepada bangsa dan negara. Persoalan yang masih dalam pemikiran,
apakah mutlak untuk memimpin revolusi itu harus Partai Komunis, apakah tidak
mungkin dipimpin oleh Partai progressif lain yang bukan Partai Komunis.
Pemikiran alternatif ini belum menampakkan menuju kesimpulan yang final.
Bukankah tidak harus memutlakkan siapa yang akan memimpin revolusi, yang penting
siapa yang bisa memenangkan revolusi dan menyerahkan hasil revolusi kepada
rakyat untuk mengadakan perubahan dasar atas nasib mereka. Untuk Indonesia,
agaknya tidak sesederhana seperti memilih kucimg dalam keranjang tertutup, tak
penting apa warnanya yang penting pandai menangkap tikus. Karena yang akan
dipilih rakyat Indonesia adalah panglima perang dan bukan para kapitalis yang
akan membangun kapitalisme di masa damai. Memilih seorang panglima perang tentu
yang punya pengalaman perang dan kalau bisa yang punya pengalaman menang dan di
sini akan tersandung lagi siapa yang akan dipilih. Siapa panglima perang yang
menang itu yang bisa mendapatkan kepercayaan rakyat .Apakah Indonesia
mempunyainya. PKI sudah terang pamglima perang yang kalah meskipun punya
pengalaman yang kaya yang telah diuji oleh sejarah namun tak juga menang-menang.
Apakah panglima yang berpengalaman tapi kalah selalu harus dicampakkan begitu
saja yang dalam pada itu panglima baru belum juga nampak, belum juga lahir dan
bahkan belum bisa bicara soal pengalaman yang jam terbangnya masih kosong. Hanya
proses dan waktu akan menjawab semua ini. Dan bilakah jawaban itu akan tiba.
Hanya pasif menunggu, itu bukan pejuang rakyat dan tidak ada gunanya berpikir
tentang nasib rakyat. Tapi menjadi kontrarevolusioner, itu akan lebih celaka
lagi karena aktif memusuhi rakyat, berarti sudah berada di pihak musuh, tanpa
diskusi tercampakkan dari pemikiran bersama mengenai nasib bangsa dan negara.
Dari yang lama-lama kita tidak harus terburu-buru mencampakkan semuanya sebagai
barang usang tak berguna .Perombakan dan perbaikan memerlukan dasar dari yang
lama untuk membedakan yang lama dengan yang baru agar tidak sekedar mengulangi
yang lama atau sama sekali terbang dari kenyataan tanpa berpijak di atas bumi.
Anti segala-galanya, juga berarti anti terhadap semua realitas kehidupan yang
akan berakibat nihil yang ahirnya akan menjadi kontrarevolusioner musuh abadi
rakyat dan bangsa. PKI adalah sebuah sejarah dan sebagai sejarah dia tak bisa
lagi dihilangkan dari memori rakyat dan catatan sejarah. Ada orang yang
mermandangnya sebagai sejarah kesalahan melulu dan bahkan sebagai sejarah
penghianatan. Pandangan demikian tipikal pandangan kontra revolusioner,
pandangan musuh rakyat dan sama sekali tidak ilmiah, tidak realis dan tidak
adil. Dalam sejarahnya PKI memang punya kekurangan-kekurangan dan kesalahan,
tapi Partai pejuang mana yang tidak punya kekurangan dan tidak punya kesalahan .
Yang penting apakah kesalahan itu dalam rangka memperjuangkan dan membela nasib
rakyat atau menghancurkan perjuangan dan membelokkannya ke jalan
kontrarevolusioner untuk menyerahkannya kepada musuh. PKI sudah jelas tidak
punya kesalahan yang negatif dan kontrarevolusioner menghkhianati rakyat dan
bangsa kecuali memang ada segelintir kecil kaum oportunis kanan-kiri atau OPOR
KAKI PKI yang terutama lahir sesudah PKI dihancurkan. Tapi cacad kecil demikian
tidak mungkin mengeruhkan seluruh sejarah PKI . Semua Partai selalu mempunyai
kaum oportunisnya masing-masing karena itu adalah sebuah penyakit umum untuk
semua Partai yang tidak ada satu Partaipun yang bisa immun atau kebal. Yang
penting apakah sebuah Partai seluruhnya sudah menjadi Partai Oportunis atau cuma
penyakit kronis biasa saja yang sangat sulit dihindari. Karenanya a priori
menganggap PKI sebagai Partai berdosa yang telah mecelakankan rakyat adalah cuma
suara fitnah musuh agen Suharto yang tidak perlu didengarkan karena sifat musuh
rakyat adalah selalu kontra revolusioner dan tidak pernah mau bertobat. Orang
hanya perlu menghadapi dan melawannya bila telah menjadi kekuataan yang hadap
berhadapan dengan musuh rakyat . Yang terserak-serak yang belum dipunguti oleh
musuh rakyat yang masih merupakan kintel--kintel, orang tak perlu membuang-buang
energi meladeninya. Anjing menggonggong kafilah lalu. Itulah sikap yang paling
tepat.
Prof.Dr. W.F. Wertheim dalam sebuah kata pengantarnya pada kumpulan sajak
Magusig O Bungai menulis: "Penting sekali kesadaran dibangun kembali: Bahwa
sebelum 1965 PKI merupakan kekuatan yang patut dibanggakan, oleh karena banyak
hal yang telah berhasil dicapai oleh partai dan gerakannya itu. Di dunia Barat
sekarang timbul kecenderungan anggapan, bahwa komunisme, dan bahkan sosialisme,
telah gagal sebagai ideologi. Kesimpulan seperti ini sama sekali salah! .Yang
gagal adalah sejumlah pemerintah yang dikuasai oleh berbagai partai komunis.
Yang terbukti gagal adalah, bahwa sistim diktatorial tanpa cukup peranan dari
rakyat bawah tidak bisa bertahan dalam jangka panjang". Selanjutnya beliau
menulis:"Jadi, untuk Indonesia, kegagalan seperti itu hanya bisa berlaku bagi
rezim Suharto. Rezim Suharto pada hakikatnya juga merupakan suatu sistim
diktatorial, dengan berbedak demokrasi yang semu belaka. Tetapi sebaliknyalah,
baik ideologi maupun praktek, komunis di Indonesia sama sekali tidak mengalami
kegagalan. Ia hanya ditimpa malapetaka dan penindasan secara perkosa, yang
ditolong oleh kekuatan anti komunis luar negeri"
Kesimpulan Prof. Wertheim adalah benar , sebuah kesimpulan ilmiah dan
obyektif dari seorang sarjana Barat yang bukan komunis yang menilai berdasarkan
penelitian ilmiah yang bersikap netral tapi juga berpihak kepada kebenaran
obyektif dari realitas yang ada.
Pukulan berat yang dialami PKI yang telah berkali-kali hingga di usianya yang
ke 88 pada tahun 2008 ini belum bisa dianggap sebagai pukulan fatal yang terahir
kalinya hingga komunisme di Indonesia tidak akan pernah muncul kembali. Kita
tidak ingin menawarkan optimisme palsu atau ilusi revolusioener kepada siapapun.
Tapi praktek dan kenyataan sejarah telah menunjukkan bahwa sejak Suharto
berkuasa hingga kejatuhannya dan hingga saat ini, yang telah berlangsung 42
tahun, belum pernah ada sebuah Partai pejuang pembela rakyat yang mempunyai
kapasitas serta kwalitas seperti PKI. Dan PKI bukan hanya sekali pernah
dijatuhkan tapi telah berkali-kali dan setiap kali ia bangkit kembali dan
meneruskan perjuangan. Tapi sekali ini PKI memang mengalami kehancuran yang
teramat parah karena menderita malapetaka besar yang malangnya mendapat serangan
mendadak dan serangan penghadangan dari musuh dari dalam yang berkoordinasi
dengan musuh-musuh PKI dari luar. Strategi dan taktik musuh yang mematikan ini
memang telah menjadi malapetaka besar untuk PKI dan semua kekuatan progressiv di
Indonesia . Tapi ide sebuah gerakan revolusioner tidak pernah mati bila gerakan
itu masih ingin hidup dan melanjutkan perjuangan. Secara fisik PKI memang telah
binasa tapi secara citaa-cita untuk membebaskan rakyat dari kemkisinan dan
penindasan, PKI akan selamanya menjadi lambang perlawanan yang paling konsekwen,
paling setia dan paling terpercaya dari semua Partai yang pernah ada dalam
memperjuangkan kepentingan dan aspirasi rakyat Indonesia.
Saya teringat akan ucapan seorang perwira tinggi militer yang keluar dari
partai Golkar karena telah menerima kesadaran baru yang telah bermuatan ide-ide
progressif dan memihak rakyat. Bekas perwira tinggi itu menjawab pertanyaan
temannya yang bertanya mengapa sekarang dia tidak masuk Partai yang lebih baik
dari Golkar yang dijawabnya spontan: "Kalau ada sebuah Partai yang lebih baik
dari PKI, barulah saya akan masuk Partai"
Asahan Aidit.
Menjelang hari lahir PKI yang ke 68, saya sajikan artikel ini sebagai bahan
bacaan, bagi yang belum pernah mengetahuinya supaya dapat
mengetahui,
bagi yang telah mengetahui supaya menjadi bahan bacaan dan renungan kembali
tentang
kesalahan maupun kebenarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar