Kamis, 27 Agustus 2015

Dibalik Optimisme Dolar Jokowi Ada Wajah Anis Baswedan


Dibalik Optimisme Dolar Jokowi Ada Wajah Anis Baswedan

-

Kalau kita ikut terseret arus melambatnya, itu yang nggak benar. Oleh sebab itu, berita-berita yang dibuat harus menimbulkan optimisme, jangan memunculkan yang sebaliknya yang pesimis," kata Presiden Jokowi. (detik.com).
"Jangan memberitakan yang justru membuat masyarakat pesimistis, media harus membantu," ungkapnya". (kompas.com)

(Sebuah cacatatan yang tertinggal dari Karnaval Khatulistiwa)
Awal cerita
Hari Sabtu 22/8/2015 Minggu lalu Jokowi datang ke Pontianak. Kebetulan sejak 17 Agustus saya pun berada di Pontianak setelah hampir 2 minggu 'belajar kehidupan' di pedalaman. Rencananya setelah beberapa hari kemudian langsung ke Bandung menemui promotor saya. Tapi rencana itu jadi urung mendengar kabar Jokowi dipastikan hadir pada puncak acara Karnaval Khatulistiwa.
Saya pikir ini momen berharga yang tak boleh terlewatkan. Minimal saya bisa buat repotase untuk Kompasiana, sekaligus promosikan Pontianak ke teman-teman Kompasianer...heu heu heu !
sumber dokpri
persiapan parade
Maksud hati ingin bersantai menjelang kedatangan Jokowi tapi apa daya saya 'dipaksa ikut-ikutan sibuk'. Karena harus jadi sopir istri yang ditugaskan kantornya jadi panitia lokal (panitia intinya dari Pusat-Jakarta) Karnaval Khatulistiwa.
Beberapa hari jelang acara, istri meminta saya menemaninya (intinya sih jadi sopir) berurusan kesana-kemari. Tak seperti biasanya, kali ini dia tak mau nyetir sendiri karena seringkali harus terima telepon-menelpon balik untuk koordinasi kesana-kemari.
Berangkat pagi, pulangnya tengah malam kami lakukan sesuai kondisi tugas. Saya sih suka-suka aja, bisa kesana-kemari seperti orang penting. Makan dan rokok ditanggung. Heu heu heu.
sumber gambar : dokpri
kontingen parade dari Kabupaten Landak

Trauma dan Berita Seronok di Media
Waktu tunggu antar kegiatan koordinasi sang Istri saya membaca berita online dan Kompasiana via BB sekalian menulis dan posting artikel. Hal itu saya lakukan di parkiran, loby hotel, loby kantor dan lain-lain. Jadi sebagai sopir saya tidak bisa dituduh tidur melulu saat menunggu !
Berita seronok bikin pedas mata yaitu menurunnya nilai Rupiah terhadap Dolar AS. Saya miris dan sedikit trauma. Dulu awal saya bekerja sebagai arsitek pada konsultan arsitektur papan atas di Jakarta, nilai dolar masih Rp. 2400-2500, tapi kemudian saya di PHK dari kantor pada nila Rp.16.000-an pas di tahun 1998. (di PHK bersama beberapa rekan arsitek). Saat itu, bukan hanya saya yang Jobless, jutaan orang mengalaminya.
Saya ingat betul, ketika tragedi Trisakti mulai, saya hampir tidak bisa pulang malam hari dari tempat kursus bahasa Inggris di Cikini karena Jakarta mendadak mencekam.
Saya ingat betul ketika ikut masuk komplek kantor DPR/MPR menyaksikan mahasiawa menguasai gedung sampai ke atap.
Saya ingat betul mau ngambil uang terpaksa jalan kaki dari Benhil ke Bank BCA pusat di jalan Sudirman. BCA mengalami Rush besar-besaran. Seperti tsunami. Ketika itu jalan Sudirman ditutup untuk kendaraan, gulungan kawat berduri dipasang melintang di tengah. Tank siaga, para Sniper TNI siaga dengan senapan di jembatan penyeberangan, atap gedung dan sudut-sudut jalan. Jakarta bagai perang kota seperti di Lebanon.
Saya ingat betul seorang ibu teriak di antrian seperti orang gila karena hanya boleh mengambil uang 5 juta perhari di BCA, sementara dia butuh uang banyak untuk pengobatan suaminya yang sekarat di rumah sakit.
Akankah semua itu terulang? Kok, Jokowi 'enak-enak' meninggalkan Jakarta pergi ke Pontianak ikut Karnaval Khatulistiwa. Bagaimana bila 'tragedi 98 terulang'. Miripkah dengan Soerharto yang digoyang saat lagi di Mesir dan terjungkal saat tiba di Jakarta ?
Tidak ! Tentu tidak !
Saya tidak rela itu terjadi pada Jokowi. Apalagi saya adalah salah satu dari sekian juta pemilihnya. Ikut capek-capek di tim Horee Kompasiana 'mengawal' pemilihan beliau. Dan bela-belain dari Bandung ke Pontianak untuk mencoblos beliau.
Beragam sumber berita politik-ekonomi soal anjloknya Rupiah saya baca sembari menunggu istri rapat, atau koordinasi dengan berbagai pihak. Tak ada tanda-tanda 'mirip Soeharto'. Satu hal yang bikin 'agak tenang' adalah stabilnya kondisi perbankan kita. Itu kata salah ahli ekonomi dan perbankan.
Saya memang dari dulu paling telat loading soal ekonomi makro. Sulit memahmi dinamika di dalamnya. Makanya walau tak terlalu paham, melihat penampilan para pengamat ekonomi di televisi selalu bikin saya kagum (selain kagum pada komedian yang tampil cerdas).
sumber ; Dokpri
Crew Kompas TV siap-siap di simpang jalan 

Kekuatiran di Keramaian
Ketika acara Karnaval Khatulistiwa saya mengambil tempat di pinggir jalan depan Hotel Santika. Jalan itu sangat strategis dan jadi salah satu yang akan dilintasi parade Karnaval.
Satu jam sebelumnya sudah hadir berbaur dengan masyarakat. Suasana di sana tampak ceria. Sesekali berbicara soal Jokowi dengan masyarakat yang menunggu. Mereka sangat antusias dan berpendapat positif soal Jokowi. Tak ada kekuatiran hidup akibat Dolar melambung. Itu yang saya suka !
Pikiran Liar dan Gila
Saat parade belum lewat, saya juga buka lagi berita-berita terkini via BBM sembari duduk di pot bunga halaman hotel Santika yang saat itu terpaksa jadi ruang publik. Membaca berita Dolar itu lagi membuat kekuatiran tidak pupus. Bahkan sempat muncul kekuatiran Gila ; Jangan-jangan ada orang jahat yang merencanakan menembak Jokowi dari kerumunan orang, balkon dan atap deret gedung pertokoan dan kantor sekitarnya sini".
sumber gambar ; dokpri
Drumband Akabri
Maaf. Sungguh itu pikiran liar dan gila ditengah keramaian. Ah, mungkin saya sedang dehidrasi? Cari minuman dingin dulu, ah..
Kalau itu terjadi, saat dolar sedang naik tak terkendali, pasar makro sedang goyah maka optimis masyarakat mendadak sirna, kepercayaan mereka pada negara pun akan hilang. Maka jadilah sejarah '98 terulang dalam versi berbeda.
Kenapa demikian ? Apa hubungannya ?
Karena optimisme masyarakat (setidaknya dari pengamatan kecil saya di sana) ada pada sosok personal Jokowi. Mereka masih percaya pada Jokowi. Dia menjadi kunci dan lokomotif rakyat kecil untuk tetap tenang di saat hiruk pikuk analisis para ahli ekonomi-politik di berbagai media. Optimisme itu masih 'genune'. Masih perawan.
Bukankah ragam komentar ahli dan analisis itu bisa bermata dua? Di satu sisi mencerahkan dan memuat optimisme, namun di sisi lain bisa menjadi 'stimulan provokasi' dan ke-pesimis-an !!
Sampai saat ini sisi pencerahan dan optimisme masih kuat mengemuka.
sumber dokpri
Jokowi (baju putih rompi coklat) berada di sebelah kanan Cornelis (baju merah)

Jokowi di Atas Mobil Hias Terbuka
Tak lama kemudian rombongan parade Karnaval sudah muncul. Masyarakat antusias menyambutnya. Mereka yang ditepi jalan beranja ke tengah. Sementara petugas keamanan sibuk menertibkan batas agar parade bisa lancar.
Mulai dari aksi drum band Akabri, drumband SMU, arak-arakan rombongan orang berbaju adat seluruh Indonesia, dan lain lain. Sementara perhatian saya bukan ke aksi parade, melainkan ke sekeliling-mengamati antusias masyarakat.
Celakanya tak sadar kalau rombongan mobil hias terbuka Jokowi sudah di depan mata ! Saat saya beranjak mendekat untuk mengambil posisi potret, terlambat ! Saya hanya dapat punggung saja. Saya sungguh kesal diri ! Heu heu heu...
Jokowi naik mobil hias burung Enggang. Berjalan perlahan. Bersama Cornelis Gubernur Kalbar Jokowi berdiri di depan dan terbuka. Dia memakai rompi adat Dayak, melambaikan tangan ke arah masyarakat yang sangat dekat dengan mobil. Badan kurusnya tak henti bergerak ke kanan-kiri menyambut lambaian tangan masyarakat yang teriak " Jokowii. !! Jokowiii. !!"
Ya ampun ! Sempat terpikir.."Entengnya mereka teriak Jokowii. !! Ndak ada sopannya nih orang-orang...itu Presiden, bukannya teman main yang ketemu di jalan". Heu heu heu...!
Ketemu Anis Baswedan di Parade
Setelah mobil Jokowi belalu, dibelakangnya ada rombongan 'kontingen' Pangdam Tanjungpura, juga dengan mobil terbuka. Selanjutnya mobil-mibil hias setiap Propinsi (Ada 18 propinsi yang hadir), 14 Kabupaten dan Kota di Kalbar, Dinas dan Lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, dll.
sumber gambar ; dokpri
Anis Baswedan

Pada mobil hias kontingan Kalbar, saya dikagetkan adanya Anis Baswedan-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu tiba-tiba aliran parade melambat. Kesempatan melihat Anis Baswedan bisa lama.
Anis duduk di bagian depan. Berbaju adat Dayak. Dengan mahkota bulu burung enggang di kepalanya. Dia tak henti menebar senyum yang lepas dan penuh kehangatan. Tangannya melambai membalas lambaian dan panggilan namanya oleh masyarakat. Sesekali dia ketepian menyambut salam masyarakat. Sesekali dia berdiri memotret antusias warga.
Sosok Anis Baswedan ini tampak menonjo di keramaian. Dia terlihat begitu enerjik, ceria, dan bersemangat serta terlihat aura positifnya. Sinar matanya cerah, senyum yang lepas. Dan gerak tubuh yang berwibawa.
sumber gambar dokpri
Anis Baswedan 
Sebuah Aura Positif muncul dari bahasa tubuh yang positif, mampu memberi kegembiraan bagi orang yang melihat dan mendekatnya. Aura itu hasil cara pandang positif, dan kerja positif. Aura positif itu mampu menghadirkan optimisme.
Pada parade itu, aura positif Anis Baswedan melibas habis segala kekuatiran saya. Dia hadirkan optimisme baru bukan hanya masalah Dolar tapi lebih dari itu, mampu memandang Positif kehidupan ini apapun kesulitan yang sedang dihadapi.
Optimis mampu menghadirkan aura positif. Dengan optimis itulah mampu menciptakan. suasana kerja positif dalam diri untuk ditularkan kepada lingkungan. Pada sequen tertenturasa Optimis berjamaah akhirnya akan menghentikan gerak Dolar yang tak sopan terhadap Rupiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar